PENGANTAR TERAS RUMAH
Pertemuan adalah permulaan dari petualangan,
Bertamu adalah kesempatan untuk bersatu dalam kebersamaan.
Dalam detik-detik ini yang kita nikmati bersama,
Kita menemukan keindahan dalam setiap momen,
Seperti puisi yang melodi dalam hati kita,
Kita adalah kata-kata yang saling mengisi dalam keheningan.
Dalam pertemuan dan , kita temukan arti,
Arti dari kehidupan yang singkat ini seperti puisi,
bagaikan tetamu dalam perjalanan manusia.
Di bawah langit yang tak berbatas ini, kita hadir,
Sebagai bagian dari alam yang penuh dengan pertanyaan nan luas,
Bertemu dan bertamu, sebuah cerita yang tak terlupakan,
Kita menjalani perjalanan ini akan dahaga yang terus memaksa mencari penawarnya.
Bertemu dan bertamu mungkin saja seperti saudara kembar yang tidak saling mengenal.
Demikianlah, dalam kerinduan yang mendalam,
Kita bertemu dalam puisi ini, sebagai kenangan abadi,
Bertamu di hati dan alam semesta yang luas,
Bersama-sama, kita menyatukan diri.
Setiap kata dari sajak silahkan dinikmati dengan cara merasakan suratan
dari apa yang pernah dialami
"terima kasih untuk hidup"
Muhamad Erysandhi
PUISI BERJALAN
bertemu dan bertamu
Semburat senja yang memudar
Kubawa buku dalam pelukan
Bertemu dan bersua di rumahmu
Berbicara tentang kehidupan
Diiringi alunan musik
Sambil merangkai kata di dalamnya
Waktu terus berjalan, mengalir
Demikian lembut menulis
Menulis tentang mu
Tak pernah tahu apa yang terjadi
Namun pertemuan ini, suatu hadiah
Menyemai keindahan dalam hati
Sekali lagi, semburat senja terpisahkan
Namun kehadiran, takkan terlupakan
Bekasi, 17 Desember 2017
menyapu dan menyapa
Rintik gerimis yang datang
Menjatuhkan pengorbanan
Dalam keheningan
Tak tahu hendak ke mana,
terjebak di labirin
Menyerang dan menusuk penuh amarah
Menyapu rambut kepala anak kecil yang rentan
Menyapu bersih dari segala kekosongan
Dalam kemarahan yang tak beralasan
Sumpah serapah manusia
yang penuh kepalsuan
Yang malu untuk mengutip rasa syukur
Garut, 20 Desember 2017
utara dan selatan
sekat sekat kian panjang
kemari nan menjelang
membelai bunga, rumput, dan ilalang
goyahnya akan mengarang
kisah angin diatas bukit
juga rumah tua yang usang
pintunya menghadap selatan
diutarakan tanya,
mungkinkah ia akan senang
untuk mereka yang mengenang
dari rindu-rindu panjang
sebab pertemuan tak lagi terang
dimana dingin telah pulang
dijemput nasib yang malang
Garut,, 24 Desember 2017
GEMBIRA DAN DAHAGA
Mendung yang terjaga
Ibarat kabar gembira
Untuk pohon pohon yang dahaga
Air yang turun
Mengetuk daun daun
Menyentuh ranting
Menjamah tanah
Menggelitik genting
Langit yang tak pernah berhenti mencintai bumi
Manusia yang menerimanya
dengan doa atas rahmatnya
atau sumpah serapah atas berkahnya
Garut, 28 Desember 2017
KHAWATIR DAN FORMULIR
Disekitar tak lagi kulihat dikau
Yang berkata tak mau
Disini tak kudengar engkau
Yang tak peduli selalu
Dia mencaci sangat amatir
Aku disini sungguh khawatir
Menyaksikan gerak bibir
Dengan tenaga yang mubazir
Moral dan akhlak memang tidak tertera di formulir
Mudah mudahan nuraninya mampir
Bekasi, 30 Desember 2017
SEROJA DAN REMAJA
aku bergelantungan di bawah hidungnya
di sepanjang lorong itu mengeja hidup
hembusannya seperti tanya jawab
mari menyusun bunga-bunga seroja
mari terpejam untuk bernapas lega
mata terbentang ancaman bak menunggu
hiasan sanggul yang tak lagi remaja
tak boleh manja !!!
ini hidup !!!
teman sejatimu hanya sepi
semoga sepi cepat berlalu
di jemput pertemuan baru
semoga gelisah cepat-cepat sarapan
tanpa khawatir dahaga di depan
Bekasi, 1 Januari 2018
LIRIH DAN LURUH
7/ helai udara di sekitarmu
membelai luruh nama mu
tikam udara di kulitmu
membentur lirih namamu
terkaman udara di pandanganmu
membenang lika-liku matamu
telusur udara di lorongmu
menyusur lara disekitar langkahmu
Bekasi, 3 Januari 2018
Pengawas dan Cemas
8/ berjuta semut dan rayap
mengawasi dengan cemas
risau yang ia undang membuat sarang
gerimis datang berulang-ulang
menyelimuti dengan khusyuk
aku pergi tanpa pamit
biar temu nanti
jangan mengacau kearah ku
semoga belas kasihan mampir lagi
semoga ia tak cepat usai
aku tak mau menjemputmu
tapi aku ingin sangat kabarmu
Bogor, 22 Januari 2018
hamba dan mesra
9/ wahai jari jemari
sampaikan kata hati hamba
yang menyusun erat setiap kata pergi
yang menghilang di ujung jalan nanti
akan kah kutemui lagi
kata pamit yang telah pergi
yang melambai mesra berkali-kali
yang beruntung mengisi kekosongan hati
wahai gita kelana
sampaikan irama tentang cinta
yang balur lantang suara
yang sendu membisik telinga
Bekasi, 25 Januari 2018
MUKA DAN DUKA
Kami terpaksa berhenti
Karena kau sudah sampai
Kami berenang di air mata
Kami berenang di ambang duka
Hanyut kenangan
Tak terima
Wajar saja
Tapi apa daya
Kami hanya bisa terima
Dan menerima
Sejenak kami melipir
Membuka arsip
Narasi terbuka lebar
Kami masih melanjutkan cerita
Menceritakan kau
Menceritakan kita
Duka sederhana yang dalam
Semoga doa terus berlanjut
Seperti kita yang ditinggalkan
Selamat jalan teman
Bekasi, 28 Januari 2018
Apa dan Siapa
Aku tunggu saja
sampai rasa penasaran ku semakin tebal
aku datangi kau
karena rasa rindu ini kian menebal
tapi aku tak temui kau
sebab tak kulihat kembaran rasa
Bekasi, 26 Januari 2018
Apa dan siapa
Hanyut dari pandangan mata
membentuk sebuah harapan
dari dinding yang tinggi
tapi tak satupun jendela terlihat
kudengar lagi detak jantungmu
yang terekam abadi dipikiranku
tapi tak dapat kubawa pulang
ia bebas
aku pun bebas
dan kita mempunyai kebebasan itu
tanpa disadari
menjadikan pintu-pintu kesepian
Bekasi, 30 Januari 2018
Untuk Ibu 1
dengan seluruh nafasmu, aku hidup
dengan seluruh doamu, aku sanggup
dengan belaian tanganmu, aku tenang
saat lambaian tanganmu diambang pintu
terasa pilu di dada
saat ku berpaling muka
aku percaya
bahwa langkah kaki ini sanggup
berkeliling dunia
Di ongkosi doa-doa mu
seperti novel lama dan lengkap
seperti embun tak segan membasahi
jiwa yang kering berliku-liku
sejuk membasahi setiap jalan
sejuk menyelimuti setiap kenangan
sejuk membasuh badan harapan
sejuk membelai atap pikiran
Bekasi, 1 Februari 2018
Untuk Ibu 2
aku pulang membawa dendam
yang sudah ku hamilkan di sanubari
Dendam ku tawar tajam ke jantungku
menyebar luka yang telah melabrak hati
kebencian aku asongkan di lidahku,
diatap pikiran juga di jantungku, di jantung hari-hariku,
di pikiran sampah ini
aku melangkah sangat cepat
dengan sombong pikirku cermat.
aku tersandung, terjatuh dan terbentur
rupanya ada tiga batu mengampar.
tiga batu itu berkata satu per satu
batu satu, “aku belaian tangan di rambutmu”
batu dua, “aku rasa gembira atas kehadiranmu”
batu tiga, “akulah tangis di dalam sakitmu”
aku mengelak, “siapa kau sebenarnya?”
batu satu, “aku lah tangan yang pernah kau sebut ibu”
batu dua, “akulah cinta yang melembutkan hatimu”
batu tiga, “akulah yang selalu khawatir akan sakitmu”
doamu di hatiku
doamu di jantungku
doamu di nadi ku
Bekasi, 3 Februari 2018
Untuk Ibu 3
kuingat ibuku dulu dongengkan cerita
tentang 11 bintang, matahari dan rembulan malam
yang bersujud kepada nabi yusuf.
dan dirimu yang kubaca
dan ku cermati kisahmu
rangkaian kenangan
dugaan hidup
dari keberhasilan
kegagalan
mimpi yang kau simpan kuat di isi kepala ku
6 Februari 2018
Untuk Bapak
malam kau pun pulang membawa sejuta terang
kecamuk sejenak kau hentikan membujuk damai seisi ruangan
dan aku tak pernah tahu
bahwa kau tak selalu baik-baik saja
menebar damai yang kau unggah
diantar kacau yang bertaruh waktu begitu cepat
dan aku tak pernah sempat
menjawab tanya dan harapan
kemana kaki ini tegar ke depan
dan aku tahu itu, bahwa kau selalu menyayangiku
dan kau pun tahu aku pun malu mengakui itu
bahwa ku ingin sekali memelukmu
dengan erat, tanpa syarat, dengan amat sangat
Bekasi, 10 Februari 2018
fana dan rasa
bila malam ini juga
napasnya terbungkus haru
tumbuhkan bara dalam jeratan
surga dunia yang katanya fana
tapi iblis juga rasa
itu bukan mau dia
Subang, 13 Februari 2018
Meralat dan Melarat
ku berharap dengan tajam
setajam belati yang ku sematkan
ku biarkan ia menegaskan maksudku
yang tak sampai hati diungkapkan
jelas kita kecewa menatap kenyataan yang mendidih
namun hanya tinggal rasa nya
pengantar lelap yang mati
aku tawar lagi untukmu
mungkin kau minat menjamahnya
di mata dan telinga mu
sebuah rasa yang belum bertemu kembarannya
Bekasi, 20 Februari 2018
Rancangan dan Sentuhan
sore hari, nyamuk kesiangan menghadiri pameran
datang malu menyelinap pintu
dengan yakin ia rancang nasib
tentang resah
rancang rangkaian
sentuhan demi sentuhan
singgah memenggal nasib
esok ia akan usai
melipir sebentar dari aroma nya
"mari kita ciptakan pulau sepi"
"semoga sepi cepat berlalu"
Bekasi, 24 Februari 2018
penghujung dan beruntung
wajah-wajah asing menatap dengan hampa
tanpa ada rasa tanpa kenal hina
bagai angin, melewati tanpa jejak
mengukur banyak nya tanda tanya
tak terbias di wajah mereka
sabtu sore ia bicara lantang
mungkin senin besok dia menghilang
dendam di layar kian terbentang
disaksikan di penghujung pameran
sinema tentang sebuah nasib
yang tak pernah muncul di layar kaca
yang tak beruntung tersiar di radio
yang tak sempat dikatakan
yang tak mungkin kita rasakan
Jakarta, 4 Maret 2018
Lantang dan bentang
parade masyarakat di sebuah pameran
memainkan kord sederhana
terdengar mudah diterima
mereka tidak menunjukan kemampuan
mereka hanya menyuarakan isi kepala nya
orkestra besar dari notasi sederhana
Bekasi, 6 Maret 2018
Masa dan Massa
hidup yang padat,
Para penyaksi berdiri tegak,
tanpa kata,
Pasar di keramaian,
saksi bisu mengamati,
Wajah-wajah tak dikenal lagi
jadi cerita yang hidup.
Situasi tak terduga,
menyaksikan cerita berjalan,
Di antara lalu dan akan datang,
mereka menilai,
Di tiap langkah,
ada keajaiban yang mereka lihat,
Di muka peristiwa masa depan,
para penyaksi berdiri.
Di balik penantian, di antara kerumunan,
Mereka temukan kisah-kisah yang tak terlupakan,
Di mata telanjang,
mereka saksikan kehidupan,
Di setiap sudut kota,
kenangan penyaksi tercipta.
Di persimpangan ini, mereka menyatu dalam waktu,
Menciptakan catatan dari detik yang berlalu,
Di sini, di mana masa lalu dan masa depan bertemu,
Para penyaksi menulis kisah-kisah di bawah langit yang biru.
Bekasi, 7 Maret 2018
Sangsi dan pengungsi
Berita datang dari tanah jauh,
Dari para pengungsi, kisah yang kau dengar.
Mereka yang meninggalkan tanah kelahiran,
Di perjalanan yang penuh dengan cobaan.
Mencari ruang aman
Di dunia yang penuh dengan perang dan bencana.
Berita para pengungsi, cerita penuh perjuangan,
Tentang keberanian dan harapan yang mengilhami.
Di tengah kelaparan dan hujan yang turun,
merindukan rumah yang pernah mereka cintai
.
Berita para pengungsi,
suara yang harus kita dengarkan,
Menusuk telinga, bersatu dalam iba
Jangan biarkan berita ini hanya berhenti di sana,
Untuk para pengungsi,
Bekasi, 10 Maret 2018
Libur dan lebur
sementara pita suara sejenak aku liburkan
kini tangan ku sedikit lebih bekerja
telinga kini bijak mendengar
berdansa…
dendam seketika terkurung
sementara hati ini sedikit menjadi perasa
jiwa seakan luluh menata
berkata…
sampai kapan kita merasa khawatir
sementara bibir-bibir mereka terasa dekat di telinga
dan aku tak mampu berucap dengan tega
bahwa tak begitu berartinya jejak mereka
Bekasi, 12 Maret 2018
Terbit dan orbit
aku sangat ingin mengorbitkan rasa
di sekujur tubuh ku yang baru saja teracuhkan
satu urutan dari tujuh
rambutku telah mereka hancurkan
aku telah katakan kepada siapa saja "selamat malam"
esok kan ku katakan "selamat pagi"
lusa siapa lagi yang mampu berkata-kata
Bekasi, 16 Maret 2018
Sasar dan daftar
aku selalu menemukanmu
di daftar penyesalan
diantara pencarian jawaban
yang rajin menangisi waktu yang terlewati
aku menemukanmu lagi
di setiap dendam
di jantungmu
di jantungku
dan jantung hari-hari ku
di setiap kata yang tak beruntung disampaikan
Bekasi, 19 Maret 2018
Sepi dan pergi
dengar orang menangis
disela rumitnya suasana
lalu mengalir ke arah batu
sampai malam sampai semua sepi
sisa air mata yang jatuh
yang ditimba dari dalam hati
lalu kering menjelma sunyi
sampai pedih sampai semuanya pergi
Bekasi, 21 Maret 2018
Labil dan kecil
apakah nasib kami ada di mulut orang-orang
atau kami bentuk dari keringat kami sendiri
kata-kata seperti kehilangan makna,
lihatlah dirimu sibuk menghibur orang lain
dengan rangkaian kata-kata
yang sebenarnya kau sendiri ingin mendengarnya
kita ini orang kecil
harus hitung-hitung kecil
dari masa ke masa tak ada yang berubah
luka kita masih sama
Bekasi, 23 Maret 2018
Sukar dan pudar
Burung bertengger di ranting yang rapuh,
Dalam senyap, ia meratap sendirian,
Sayap lelahnya tak mampu terbang tinggi,
napas pilu dalam dunia yang tak berpihak.
Hidupnya berjalan di atas seutas benang tipis,
Kehadirannya rapuh, tak lama akan hilang,
Tak seorang pun mendengar nyanyian sunyi,
Ia mengenang masa-masa yang takkan kembali.
Dalam sepi yang menghimpitnya, ia merindukan lagi,
Kisah angin diatas bukit, kenangan yang pudar,
Burung di ranting rapuh, peluk kesepian malam,
Kehilangan dan kerinduan menghantui dalam diam.
Garut, 25 Maret 2018
Lupa dan Pula
Maafkan semua kesalahanku yang tersembunyi,
Hilang dalam langit malam
seperti bintang yang surut.
Sepatu kusam ku juga pasti tahu, terluka di hati,
Menyimpan cerita masa lalu
berat bagai beban yang terus.
Mengingatkan akan kesalahan,
Mengambang di langit
seakan ingin bercerita.
Namun, ku ingin memperbaiki
namun tak berani berjanji,
Hanya berharap waktu dan tindakan yang bicara nanti.
Masa lalu, bagai bayang yang menghantui,
Pernah kucoba menghindar
tapi ia selalu kembali.
Luka-luka hati semakin mendalam dan gelap,
Seperti kisah tragis yang tak pernah selesai
tak terduga.
Engkau, yang sabar
terima permintaan maaf ini,
Namun hatiku rapuh, sering bergetar dalam ketakutan.
Tapi, janji tak ku ucap
takut kembali terluka dalam rapuh,
Mungkin, hanya waktu
yang akan membawa kelegaan yang diharapkan.
Bekasi, 29 Maret 2018
Getar dan wajar
Frekuensi getaran, di luar hitungan rasional,
Dunia meronta dalam kegilaan yang tidak wajar.
Bumi bergetar, alam menjerit kebingungan,
Kita berdiri di ambang kehancuran yang tak terelakkan.
Dalam cobaan ini, kita tak dapat menyembunyikan diri,
Ketidakpastian melilit, rasa ketakutan merajalela.
Frekuensi yang meledak, getaran tak terkendali,
Kita harus bersatu, melalui badai ini bersama-sama.
Kita, manusia-manusia lugu di tengah gemuruh,
Terhempas oleh getaran semesta yang ganjil.
Hidup kita terombang-ambing dalam kebingungan,
Seolah-olah cobaan ini adalah ujian terbesar bagi kita.
Namun, dalam gelombang getaran yang tak terduga,
Mungkin terdapat hikmah yang tersembunyi dalam getaran.
Kita harus mencari makna, menggali dalam diri,
Untuk menemukan jalan keluar, kembali pada kebijaksanaan kita.
Bekasi, 1 April 2018
Merdu dan merayu
Di jalan sunyi petang yang sepi,
Aku merayu langit, semoga hujan tiba.
Maukah engkau, hujan, jadi temanku?
Di pelukan lembutmu,
hatiku kan rindu dalam gerimis senja yang dingin,
Kita berdua menyendiri, sepi dalam hening.
Hujan, hiasi malam ini dengan gema merdu,
Temani aku, temani hatiku yang resah.
Cinta yang bergelora seperti air mengalir,
Hujan, jadilah saksi, jadilah temanku yang nyata.
Dalam pelukanmu, semua kerinduan terubat,
Semoga hujan, kau jadi temanku yang setia.
Bekasi, 2 April 2018
Hanyut dan selimut
Diujung sana adalah rumah lamanya,
Berselimut rindu, nostalgia membayang.
Dinding yang retak, mengisahkan masa,
Jejak langkah, kisah lama yang menghantam.
Pintu kayu berderit saat terbuka lebar,
Sambut kembali, ingatan pun muncul tak terbatas.
Pemiliknya, dulu berlari-lari di halaman,
Senyumnya hangat, dalam pelukan keluarga.
Di pojok sana, meja makan yang usang,
Kisah-kisah keluarga, berduka dan gembira, nyanyian tawa.
Lembutnya nyanyian ibu saat malam beranjak,
Menghanyutkan, dalam pelukannya kala itu.
Namun seiring waktu, segalanya berubah,
Rumah lama ini tlah berubah warna dan rasa.
Kenangan terpatri dalam setiap sudut,
Seperti surat tua, tak pernah pudar dan terasa.
Diujung sana adalah rumah lamanya,
Di sini, kenangan abadi terpatri dalam sejarah.
Ketika malam turun, bintang-bintang menyala,
Rindu dan nostalgia menyambut dengan sejuta tawa.
Bekasi, 5 April 2018
Kuncup dan sanggup
Matahari teralihkan hujan
namun tetap terang bersinar
Air hujan mengalir
laksana gelisah terbawa angin
Lihatlah padang yang gundah
tak ada kupu-kupu melayang
Bunga kuncup mengharap
saat sayap terbelah waktu
Rindu terbang tak berbentuk
elok bunga biji belum berisi
Waktu adalah seni melukis
mari berjalan bersama
mungkin ia tak akan sanggup
melihat rembulan terbelah
Waktu tak akan ketinggalan
nikmati saja segala rindu ini
Lihatlah wajah yang merintih
kesepian merangkul ruang waktu
Kau sampai bersama sayap tumbuh dari hati
sayap yang ingin bebas dari bermakna
Bekasi, 7 April 2018
habislah aku
tergoda sejuta sentuhan
yang membelai keras sekujur tubuh
Temanggung, 9 April 2018
Angan dan ambang
berat beban di kelopak mata mu
angin semilir genit dan menari
ledakan-ledakan hiruk pikuk
di ambang angan-angan
setelah malam tenggelam
setelah kaca jendela tertutup
tingga lah hanya kain penutup
melambai mesra tiada jawab
waktu itu hampir pagi
sebelum mentari menjaga kita
Temanggung, 11 April 2018
ada dan jeda
di ransel masih ada
secarik kertas bertuliskan nama mu
lusuh dan lecek di aniaya buku tebal
di ransel masih ada
sisa-sisa nilai belajarmu
tercoreng pada daftar penyesalan
di ransel masih ada
Pensil yang tak sempat kau raut
tersimpan dalam kotak waktu
Bekasi, 15 april 2018
Usir dan mangkir
kerumunan itu mengusirku paksa
kedamaian telah mangkir jauh
air putih, kopi, rokok kretek
diplomasi sudah basi
tidak kulihat lagi pertunjukan
arak-arakan dan pawai idiot
aku sudah menggiringnya ke pulau sepi
tempat kesunyian ringan bisa ku aduk-aduk
dari sisa kemarin
siapa lagi yang bisa berbicara?
janji-janji, bendera, mahkota serigala
baju dan bendera bertuliskan nama “janji” itu
sudah ku jadikan karpet “selamat datang”
di pijaki nya dengan basah dan kotor
di injak-injak dengan bangga
sementara di atas mimbar
suara itu ku anggap radio rusak
tak akan kubiarkan ia mengepung pulau ini lagi
Bekasi, 23 april 2018
Kata dan daya
Liar, celoteh meloncat dari bibirmu,
Menyulut api, hancurkan hari tanpa batu.
Ketukan kata-kata, semakin keras,
Seperti palu, membelah keheningan malam.
Matahari menutup diri dalam malu,
Ketika kau berceloteh, menghancurkan batas waktu.
Dalam setiap percakapan, tak ada kata lembut,
Hanya hantaman kata-kata, menggertak dalam kesunyian.
Kita, terjerat dalam permainan kalimat,
Semakin liar celoteh, semakin hancurkan rasa.
Batu tak mampu menahan derasnya air kata,
Seiring pagi merangkak, hati terluka dalam senyum.
Hari-hari tergulung dalam ombak kata-kata,
Tanpa batu, tanpa benteng, kita tak berdaya.
Dalam keheningan, masih terdengar seruan,
Semakin liar celoteh, hancurkan hari tanpa batu.
Bekasi, 25 April 2018
aku, apa, dan siapa
Nyamuk itu datang lagi
Kali ini tidak sedang kesiangan
Mereka berteduh
Menggigil
Setelah diseberangkan paksa oleh gerimis
“selamat siang menjelang sore”
Tapi ini bukan sapaan
Sebab di ujung sore nanti
Aku akan katakan kepada siapa saja
“selamat malam”
“aku sudah siapkan semua yang ku rampas”
Apa pun itu
Kata-kata, suara, angin malam tak terima
“maaf kami agak gugup menyapa kenyataan”
Bekasi, 29 April 2018
Duka dan Muka
Langkah terhenti, matahari bersembunyi,
Senja merayap, menari di langit biru.
Hening merajut kabut, gelap mengintip,
Dalam diamnya, cinta pun terlipat.
Silakan tunggu di muka waktu yang menguji,
Seperti kata-kata yang terlontar,
Biru di langit menyimpan rahasia,
Sejenak, kita berdiri di tepi keabadian.
Duka merayap, merajut asa yang rapuh,
Sebagaimana malam merangkul senja.
Kata-kata cinta, tergantung di bibir,
Silakan tunggu di muka, biar waktu yang menjawab.
Gelap tak sepenuhnya menutup, bintang tetap bersinar,
Mengisyaratkan harap, di antara jeda kegelapan.
Dalam sunyi, di antara nafas senja,
Kita menanti, di muka waktu yang tak pernah terbaca.
kembali aku ditelan sepi
Bekasi, 3 Mei 2018
Masuk dan Mabuk
Ternyata malam masih panjang
Malam kemarin
Malam ini
Malam esok
Kita menggigil dalam metafora
Langkah kita tersandung titik dan koma
Mabuk berjalan
Diantara bunga-bunga rekah
Diredupnya malam
Diremangnya hati
Kita mabuk lagi
Mabuk penyesalan
Dan kembali lagi ditelan sepi
Bekasi, 10 Mei 2018
lampu dan pintu
saat aku berteduh manja di bawah kibaran bendera
aku tak ingin lagi menyentuh telepon genggam ku
sejenak tak ingin melihat dunia persegi itu
tapi, ponsel itu kubiarkan mode suara
detik demi detik yang terus piket
lampu layar juga hampir mengantuk
baterai yang telah ku tawar paksa untuk sarapan
sinyal terus saja kupaksa sadar walau masa tenggang
nomor kontak juga sudah aku biarkan ia melacur
banyak peringatan
banyak kejutan
mengetuk pintu
sirkulasi
kopi hangat dan rokok kretek
berselancar penuh interaksi
Bekasi, 13 Mei 2018
berapa dan kenapa
sudah berapa kali dunia berubah
Sebelum kamu meminta nya?
sudah berapa kali angin berhembus
Sebelum kamu mencari nya?
sudah berapa kali hujan jatuh
Sebelum kamu menepisnya?
Sudah berapa kali musim berganti
Sebelum kamu merubahnya?
Ia telah lenyap
Tapi masih dicari
Ia sudah mati
Tapi masih berani
Ia sudah dilupakan
Tapi masih berarti
Bekasi, 21 Mei 2018
Pergi dan menari
Sebagian tidak mau diceritakan
Kabar buruk dan kabar baik menyamar
Ada kerusuhan di setiap sudut
Yang larut dalam pencarian
Perbincangan yang kontemporer
Direguk habis setiap beku nya tanya
Mereka enggan bermimpi lagi
Katanya semua telah berakhir
Katanya semua telah pergi
Tapi dua kata masih menari
Aku jawab dengan pasti
Kata “tapi” dan “mungkin” Tak mau luput
Mereka terus bersemayam
Sebab tak ada yang sanggup berjanji
Seperti putaran waktu dan matahari
Bekasi, 25 Mei 2018
mangkir dan mengalir
Aku sedang terhanyut
Doa kali ini untuk ku saja
Aku masih bimbang
dihasut badai yang tenang
Aku masih kehilangan
Harap kali ini untuk mu saja
Aku masih mau bermimpi
Tapi lelap kali ini untuk kita
Yang masih terbendung lupa
Yang dirawat baik oleh sesal
Mudah-mudahan kau mau mampir
Sekedar menginjak kenyataan
Aku tak sanggup mangkir
Karena hujan masih mengalir
Bekasi, 30 Mei 2018
nama dan rupa
bagai topeng muka dua
menyalin nama dan rupa nya
dasar rasa sedihku hanya diriku yang tahu
kebahagiaan bisa ku tipu sendiri
ia senang bermain di dunia nya
aku biarkan diriku membisu,
biar saja,
biar apa?
sampai mana dalam palung terdalam
nanti waktu yang menyertai untuk menakar nya
apa kalian akan tahu?
berapa lama aku bermimpi
berapa harga mimpi yang bertambah tinggi
Bekasi, 2 Juni 2018
kuat dan muat
berjalan kaki adalah hal yang biasa
semua orang melakukannya
Ada harga yang lebih ternyata
Seperti sebuah kejutan
Pergi dengan pintu semangat
Pulang membawa ransel rindu yang kuat
Arah-arah baru menyelimuti
Seperti layu nya tanda tanya
Siapa lagi yang mau menanti kesimpulan
Biar aku saja
Biar kamu saja
Biar kita saja
Aku pun bisa
Kau pun bisa
Jika kamu mau
Boyolali, 4 Juni 2018
akan dan umpan
Aku takut tidur dan tidak tahu apa yang menunggu
Tapi aku terlalu dalam dengan umpan iblis
Mimpi buruk begitu nyata sehingga aku terbangun
Bahkan saat aku menulis Jari-jariku gemetar
Aku ingin kembali
Perbaiki semuanya
Tapi itu tidak mungkin
Di tengah malam
Dengan masa lalu yang menakutkan
Menatap masa depanku terperanjat
Berpikir saat aku duduk rapat
Dengan masa depanku tidak terlihat
Boyolali, 7 Juni 2018
gubuk dan tunduk
luangkan waktu untuk berkemah
jelajah manis membuang hari
membelakangi tangis dan kekalahan
tenggang rasa yang kerendahan
kita buat lagi rumah sementara
lagi pula lapar adalah derita abadi
kita buat lagi sumur genangan
lagi pula dahaga tak perlu dalam-dalam
kita naungi lagi atap sederhana
buat apa takut pada kasihnya
kita bingkai lagi jejak kita
yang lebih jauh dari itu
melibatkan langkah-langkah
yang didamaikan gubuk kenangan
tempat berteduh hati kala rindu
Bekasi, 10 Juni 2018
kerap dan senyap
ada yang lebih senyap dari bisikan
lebih panas dari siang
lebih khawatir dari hujan
memayungi saja
tidak perlu menghujani
dikalahkan oleh stigma
dimenangkan karena tidak peduli
makin nampak dangkal
kenapa ia seperti makanan kaleng
sedangkan aku seperti pembuka kaleng
mengapa mereka membeli kedua nya
Bekasi, 15 Juni 2018
surau dan tembakau
Bagaimana cara menemukan lagi keikhlasan
yang aku tinggalkan di atas ketidakrelaan
dimana?
di atas sandal yang hilang dihalaman surau
di setiap ponsel berdering
di remuknya uang recehan
pada lintingan tembakau
saat kopi panas dilupakan
seperti pemantik api yang lenyap
atau dua nomor belakang yang luput terjatuh melupa
Bekasi, 17 Juni 2018
tanaman dan bagian
Dongeng panjang penuh rahasia
Penasaran seperti lapar yang pasti
Derita abadi setiap makhluk
Yang mampu merubah rasa
Sisa-sisa yang tenggelam
Di hamparan rasa penasaran
Yang dihimpit lupa
Yang teringat-ingat rasa
Kasih sayang
Tanaman abadi yang tumbuh
Menjalar di setiap hati
Setiap hari
Sepanjang dari kita lahir
Ia bagian dari kehidupan
Entah sampai saat ini
Masih menjadi mode pengingat
Dilubuk hati yang paling dalam
Harus Tenggelam untuk menemukan nya
Bekasi, 20 Juni 2018
***
a dan 4
Dinyanyikan kenyataan
Setelah habis dan tenggelam
Bekasi, 22 Juni 2018
***
segala dan upaya
ia tenggelam dalam cintanya
mati lah segala penjelasan dunia
ia di dekap hangat rindunya
tak mempan lah segala nasihat
ia berendam dalam mimpi
hancur lah semua batas arti
ia terhanyut dalam sedihnya
redup lah segala daya upaya
Jakarta, 27 Juni 2018
***
lahir dan lapar
sanjungan palsu lahir dari rasa lapar
harapan nyata lahir dari makian
Bekasi, 30 Juni 2018
***
Kita hidup di dunia ini memang untuk saling merepotkan
Bekasi, 2 Juli 2018
***
Aku rasa mengasihimu tak perlu bernyanyi merdu
Agar kau ingat nada sumbangku
Mengasihimu tak perlu juga cukup
Agar kau ingat apa yang kurang dari ku
Mendambamu tak perlu benar-benar
Agar kau tahu betapa salah pun menuntunmu untuk tahu aku
Ku ingin sekali berlari
Atas pelarianku
Dari banyak nya pengaruh
Yang tak sempurna dirindukan
Yang malu untuk di khayalkan
Janji ku didalam hati
Andai ku dapat kau
Dunia tak kan menampar keras
Mungkin menggelitik
“Pulanglah, kembali ke rumahmu,
Tempat sepi bisa kau aduk-aduk”
Bogor, 7 Juli 2018
***
Kita telah jauh
Menjauhi sepi
Yang pernah kita bangun temboknya
Kita telah lelap
Dari lelah yang dihantui rasa ragu
Kita sudah lebih jauh
Bahkan lebih jauh dari kata “pernah dekat”
Sebelum dewasa memisahkan kita
“Aku rindu kecilku, tak rasa tahu ku, bodohku”
tapi tak ingin kembali sampai membuka pintu
Bila kau rindukan aku
Taburkan saja suasananya
Diatas kertas yang dipengaruhi notasi hari
Jika mau sombong tak ada yg mampu bernada dan kata sedemikian,
Karena lagu ini hanya tercipta untuk mu
Bogor, 8 Juli 2018
***
Sejauh mana aku dibutuhkan
Apakah seperti robot percobaan
Barang pinjaman
Tumpangan kendaraan
Rumah singgah
Remote pengendali
Air putih
Pahlawan kesiangan terakhir
Bekasi, 12 Juli 2018
***
Orang orang bertanya
Dimana dia?
Sebelum aku tak tahu dengan kabarnya kemarin
Kata-kata terjebak
Apakah kau tahu?
Sebelum itu aku sering menulis tentang kau
Ruang tanya hampir habis
Apakah kau rasa?
Sebelum itu aku bingung menjawab banyak pertanyaan
Bekasi, 15 Juli 2018
Semacam ruang tunggu
berbaris bangku-bangku tamu
Yang sulit diceritakan awalnya mengapa
Berita kini baru lagi
Papan reklame masih berdiri
Yang bisa dijelaskan dipergunakan untuk apa
Apa?
Siapa?
Mengapa?
Mengapa kita masih bingung?
Mengapa malam masih ada
***
Zaman telah berubah
Kemarin ia menulis surat wasiat dan memintaku menjemputnya
Musim telah berubah
Hari ini dia memintaku mengikuti setiap langkah kaki nya
Rasa akan berubah
Untuk esok dia berpesan kepada ku untuk selalu memegang tangannya
Bertanya-tanya tentang nyata yang rahasia
Menjawab tanya tentang fana yang indah
***
Dunia mu begitu semu
Aku terjebak di dalamnya
Dan malaikat seakan menjauh
Dari aku yang mabuki rindu mu
***
Jatah gagal ku telah ku ambil upahnya
Diberikan sore hari dengan kertas slip gaji yang lusuh
Atasan ku memanggilku sedari pagi
Aku telat menghadirinya
Setelah aku bekerja melewati jam yang semesti nya
Hampir malam aku pulang kerumah
Aku menaruhnya di atas meja
***
Beberapa orang mengatakan,
sinar matahari mengikuti kilau mata kita
Coba katakan pada seseorang yang tak bisa bersinar,
Dengarlah kabar mereka bilang kita usah merenung
Tetapi masa lalu yang terus mempengaruhi kita dalam berpikir
Beberapa orang mencoba menenangkan bahwa kita akan menemukan hari yang lebih cerah
Di hari yang lapang ini aku berdiri dengan harapan
Diketahui di tengah hujan, persiapkan dirimu
Untuk rasa percaya yang tak tergoyahkan
Piring kotor menghiasi pikirannya
Lembut meluap, tapi itu semua serba mendasar
Beberapa orang tak percaya pada harapan
Beritahu mereka yang tinggal di lingkaran derita
Kau akan mendapatkan apa yang diberikan
Jika tak ada yang milikimu, tak juga punya milikku
***
Masa depan kita bisa saja dibatalkan oleh kalkulasi di esok hari
***
Ketika seseorang berkata,
“Siapakah kau?”
Lalu tidur pun menjawab,
“Bumi mengelabui dan langit mengacuhkanmu, maka datanglah ke pangkuanku kan ku bawa sekeranjang hal indah dari keduanya di dalam mimpi mu
Ia berkata lagi,
“Akan kemana kau?’
Maka mimpi pun menjawab,
“Dikala dunia risau dibawah langit yang mendung, mata ku terpejam hanya untuk sebuah mimpi yang sulit ku gapai di pagi hari”.
garam-garam bintang
Gula-gula rembulan
Diaduk dengan dialiri air panas hati
Yang menyelinap dalam genangan yang sunyi
Dia berkata lagi
“Kenapa suka tertidur?,
Kini giliran ku menjawab,
“Dalam tidurku aku memelukmu, sampai penatku terbangun dilagi hari, aku akan lelapkan engkau, tapi kumohon jangan larutkan aku didalamnya”
***
demi kata istirahat
Yang aku tak tahu kapan itu bisa dicapai dengan tenang,
Cerita palsu itu membuatku mengantuk
Bagaimana cara nya menarik nya keluar
Suka dan duka nya kuberi reaksi uap untukmu
Dengan kata lain aku bosan mendengarnya
Terimalah setiap hembusan kebosanan ku
***
Kebanyakan rindu mati di jalan panjang
Kebanyakan mimpi tak rela untuk dibagi
Disana tempat rindu mati sendiri
Disini tempat mimpi seperti nasib yang disunyikan kita masing-masing
Selayaknya malam, sunyi bisa ku aduk-aduk hingga pagi
Selayaknya siang hingan bisa kutekan sampai sirna
***
Dengan berat hati harus ku katakan, bahwa aku rindu kamu
***
Apakah kita ini,
seperti kaleng makanan instan
dari banyak angka nol yang menendang dengan kebosanan ditelingamu
penuh,
tetapi kamu kosong
memegang hatimu sendiri
Dari orang-orang yang tidak pernah benar-benar peduli bagaimana keadaanmu
Jadi mohon,
beri aku rasa dan pandangan dengan mudah
Aku sudah melihat begitu banyak,
aku jadi kasat mata dan layar pikiranku kian meredup
Kita cukup sulit,
Untuk itu bawa aku pergi dari ruang besar yang buruk ini
Dan setuju lah untuk berjalan denganku
Jadi kita bisa memulai dari awal lagi
Apakah kamu pergi ke untuk melihat hujan yang lain?
Jaraknya tidak terlalu jauh
Namun akan ada orang di sana yang menyakitimu
Karena siapa?
Telingamu penuh dengan bahasa mereka
Ada hikmah di sana,
yakin lah akan sampai kata-katanya mulai tidak jelas menjadi jelas
Tapi aku tak janji untuk dapat menemukan pintunya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar