Adsense

Selasa, 28 November 2017

BERTEMU DAN BERTAMU, Kumpulan Puisi Muhammad Erysandhi


PENGANTAR TERAS RUMAH


Pertemuan adalah permulaan dari petualangan,

Bertamu adalah kesempatan untuk bersatu dalam kebersamaan.

Dalam detik-detik ini yang kita nikmati bersama,

Kita menemukan keindahan dalam setiap momen,

Seperti puisi yang melodi dalam hati kita,

Kita adalah kata-kata yang saling mengisi dalam keheningan.

Dalam pertemuan dan , kita temukan arti,

Arti dari kehidupan yang singkat ini seperti puisi,

bagaikan tetamu dalam perjalanan manusia.

Di bawah langit yang tak berbatas ini, kita hadir,

Sebagai bagian dari alam yang penuh dengan pertanyaan nan luas, 

Bertemu dan bertamu, sebuah cerita yang tak terlupakan,

Kita menjalani perjalanan ini akan dahaga yang terus memaksa mencari penawarnya.

Bertemu dan bertamu mungkin saja seperti  saudara kembar yang tidak saling mengenal.

Demikianlah, dalam kerinduan yang mendalam,

Kita bertemu dalam puisi ini, sebagai kenangan abadi,

Bertamu di hati dan alam semesta yang luas,

Bersama-sama, kita menyatukan diri.

Setiap kata dari sajak silahkan dinikmati dengan cara merasakan suratan

dari apa yang pernah dialami


"terima kasih untuk hidup"




Muhamad Erysandhi


PUISI BERJALAN 

bertemu dan bertamu


Semburat senja yang memudar

Kubawa buku dalam pelukan

Bertemu dan bersua di rumahmu

Berbicara tentang kehidupan

Diiringi alunan musik

Sambil merangkai kata di dalamnya

Waktu terus berjalan, mengalir

Demikian lembut menulis

Menulis tentang mu

Tak pernah tahu apa yang terjadi

Namun pertemuan ini, suatu hadiah

Menyemai keindahan dalam hati

Sekali lagi, semburat senja terpisahkan

Namun kehadiran, takkan terlupakan


Bekasi, 17 Desember 2017















menyapu dan menyapa


Rintik gerimis yang datang

Menjatuhkan pengorbanan

Dalam keheningan

Tak tahu hendak ke mana, 

terjebak di labirin

Menyerang dan menusuk penuh amarah

Menyapu rambut kepala anak kecil yang rentan

Menyapu bersih dari segala kekosongan

Dalam kemarahan yang tak beralasan

Sumpah serapah manusia

yang penuh kepalsuan

Yang malu untuk mengutip rasa syukur


Garut, 20 Desember 2017

















utara dan selatan


sekat sekat kian panjang

kemari nan menjelang 

membelai bunga, rumput, dan ilalang

goyahnya akan mengarang 

kisah angin diatas bukit 

juga rumah tua yang usang

pintunya menghadap selatan 

diutarakan tanya,

mungkinkah ia akan senang

untuk mereka yang mengenang

dari rindu-rindu panjang

sebab pertemuan tak lagi terang

dimana dingin telah pulang

dijemput nasib yang malang


Garut,, 24 Desember 2017















GEMBIRA DAN DAHAGA


Mendung yang terjaga

Ibarat kabar gembira

Untuk pohon pohon yang dahaga

Air yang turun

Mengetuk daun daun

Menyentuh ranting

Menjamah tanah

Menggelitik genting

Langit yang tak pernah berhenti mencintai bumi

Manusia yang menerimanya

dengan doa atas rahmatnya

atau sumpah serapah atas berkahnya


Garut, 28 Desember 2017

















KHAWATIR DAN FORMULIR


Disekitar tak lagi kulihat dikau

Yang berkata tak mau

Disini tak kudengar engkau

Yang tak peduli selalu


Dia mencaci sangat amatir

Aku disini sungguh khawatir

Menyaksikan gerak bibir

Dengan tenaga yang mubazir

Moral dan akhlak memang tidak tertera di formulir

Mudah mudahan nuraninya mampir


Bekasi, 30 Desember 2017


















SEROJA DAN REMAJA


aku bergelantungan di bawah hidungnya

di sepanjang lorong itu mengeja hidup

hembusannya seperti tanya jawab

mari menyusun bunga-bunga seroja

mari terpejam untuk bernapas lega

mata terbentang ancaman bak menunggu

hiasan sanggul yang tak lagi remaja

tak boleh manja !!!

ini hidup !!!

teman sejatimu hanya sepi


semoga sepi cepat berlalu

di jemput pertemuan baru

semoga gelisah cepat-cepat sarapan

tanpa khawatir dahaga di depan


Bekasi, 1 Januari 2018














LIRIH DAN LURUH


7/ helai udara di sekitarmu

membelai luruh nama mu

tikam udara di kulitmu

membentur lirih namamu

terkaman udara di pandanganmu

membenang lika-liku matamu

telusur udara di lorongmu

menyusur lara disekitar langkahmu


Bekasi, 3 Januari 2018





















Pengawas dan Cemas


8/ berjuta semut dan rayap 

mengawasi dengan cemas

risau yang ia undang membuat sarang

gerimis datang berulang-ulang

menyelimuti dengan khusyuk


aku pergi tanpa pamit

biar temu nanti

jangan mengacau kearah ku

semoga belas kasihan mampir lagi


semoga ia tak cepat usai

aku tak mau menjemputmu

tapi aku ingin sangat kabarmu


Bogor, 22 Januari 2018















hamba dan mesra


9/ wahai jari jemari

sampaikan kata hati hamba

yang menyusun erat setiap kata pergi

yang menghilang di ujung jalan nanti


akan kah kutemui lagi

kata pamit yang telah pergi

yang melambai mesra berkali-kali

yang beruntung mengisi kekosongan hati


wahai gita kelana

sampaikan irama tentang cinta

yang balur lantang suara

yang sendu membisik telinga


Bekasi, 25 Januari 2018















MUKA DAN DUKA


Kami terpaksa berhenti

Karena kau sudah sampai

Kami berenang di air mata

Kami berenang di ambang duka

Hanyut kenangan

Tak terima

Wajar saja

Tapi apa daya

Kami hanya bisa terima

Dan menerima


Sejenak kami melipir

Membuka arsip

Narasi terbuka lebar

Kami masih melanjutkan cerita

Menceritakan kau

Menceritakan kita

Duka sederhana yang dalam

Semoga doa terus berlanjut

Seperti kita yang ditinggalkan

Selamat jalan teman


Bekasi, 28 Januari 2018









Apa dan Siapa


Aku tunggu saja

sampai rasa penasaran ku semakin tebal

aku datangi kau

karena rasa rindu ini kian menebal

tapi aku tak temui kau

sebab tak kulihat kembaran rasa


Bekasi, 26 Januari 2018
























Apa dan siapa


Hanyut dari pandangan mata

membentuk sebuah harapan

dari dinding yang tinggi

tapi tak satupun jendela terlihat

kudengar lagi detak jantungmu

yang terekam abadi dipikiranku

tapi tak dapat kubawa pulang

ia bebas

aku  pun bebas

dan kita mempunyai kebebasan itu

tanpa disadari

menjadikan pintu-pintu kesepian


Bekasi, 30 Januari 2018

















Untuk Ibu 1


dengan seluruh nafasmu, aku hidup

dengan seluruh doamu, aku sanggup

dengan belaian tanganmu, aku tenang

saat lambaian tanganmu diambang pintu

terasa pilu di dada


saat ku berpaling muka

aku percaya

bahwa langkah kaki ini sanggup 

berkeliling dunia

Di ongkosi doa-doa mu


seperti novel lama dan lengkap

seperti embun tak segan membasahi

jiwa yang kering berliku-liku

sejuk membasahi setiap jalan

sejuk menyelimuti setiap kenangan

sejuk membasuh badan harapan

sejuk membelai atap pikiran


Bekasi, 1 Februari 2018








Untuk Ibu 2


aku pulang membawa dendam

yang sudah ku hamilkan di sanubari

Dendam ku tawar tajam ke jantungku

menyebar luka yang telah melabrak hati

kebencian aku asongkan di lidahku,

diatap pikiran juga di jantungku,  di jantung hari-hariku,

di pikiran sampah ini

aku melangkah sangat cepat

dengan sombong pikirku cermat.

aku tersandung, terjatuh dan terbentur 

rupanya ada tiga batu mengampar.


tiga batu itu berkata satu per satu

batu satu, “aku belaian tangan di rambutmu”

batu dua, “aku rasa gembira atas kehadiranmu”

batu tiga, “akulah tangis di dalam sakitmu”

aku mengelak, “siapa kau sebenarnya?”


batu satu, “aku lah tangan yang pernah kau sebut ibu”

batu dua, “akulah cinta yang melembutkan hatimu”

batu tiga, “akulah yang selalu khawatir akan sakitmu”


doamu di hatiku

doamu di jantungku

doamu di nadi ku


Bekasi, 3 Februari 2018




Untuk Ibu 3


kuingat ibuku dulu dongengkan cerita 

tentang 11 bintang, matahari dan rembulan malam 

yang bersujud kepada nabi yusuf.


dan dirimu yang kubaca

dan ku cermati kisahmu

rangkaian kenangan

dugaan hidup

dari keberhasilan

kegagalan

mimpi yang kau simpan kuat di isi kepala ku


6 Februari 2018


















Untuk Bapak


malam kau pun pulang membawa sejuta terang

kecamuk sejenak kau hentikan membujuk damai seisi ruangan

dan aku tak pernah tahu

bahwa kau tak selalu baik-baik saja

menebar damai yang kau unggah

diantar kacau yang bertaruh waktu begitu cepat

dan aku tak pernah sempat

menjawab tanya dan harapan

kemana kaki ini tegar ke depan

dan aku tahu itu, bahwa kau selalu menyayangiku

dan kau pun tahu aku pun malu mengakui itu

bahwa ku ingin sekali memelukmu

dengan erat, tanpa syarat, dengan amat sangat


Bekasi, 10 Februari 2018
















fana dan rasa


bila malam ini juga

napasnya terbungkus haru

tumbuhkan bara dalam jeratan

surga dunia yang katanya fana


tapi iblis juga rasa

itu bukan mau dia


Subang, 13 Februari 2018






















Meralat dan Melarat


ku berharap dengan tajam

setajam belati yang ku sematkan

ku biarkan ia menegaskan maksudku

yang tak sampai hati diungkapkan


jelas kita kecewa menatap kenyataan yang mendidih

namun hanya tinggal rasa nya

pengantar lelap yang mati


aku tawar lagi untukmu

mungkin kau minat menjamahnya

di mata dan telinga mu

sebuah rasa yang belum bertemu kembarannya



Bekasi, 20 Februari 2018















Rancangan dan Sentuhan


sore hari, nyamuk kesiangan menghadiri pameran

datang malu menyelinap pintu

dengan yakin ia rancang nasib

tentang resah

rancang rangkaian

sentuhan demi sentuhan

singgah memenggal nasib

esok ia akan usai

melipir sebentar dari aroma nya

"mari kita ciptakan pulau sepi"

"semoga sepi cepat berlalu"


Bekasi, 24 Februari 2018


















penghujung dan beruntung


wajah-wajah asing menatap dengan hampa

tanpa ada rasa tanpa kenal hina

bagai angin, melewati tanpa jejak

mengukur banyak nya tanda tanya


tak terbias di wajah mereka

sabtu sore ia bicara lantang

mungkin senin besok dia menghilang

dendam di layar kian terbentang


disaksikan di penghujung pameran

sinema tentang sebuah nasib

yang tak pernah muncul di layar kaca

yang tak beruntung tersiar di radio

yang tak sempat dikatakan

yang tak mungkin kita rasakan


Jakarta, 4 Maret 2018













Lantang dan bentang


parade masyarakat di sebuah pameran

memainkan kord sederhana

terdengar mudah diterima


mereka tidak menunjukan kemampuan

mereka hanya menyuarakan isi kepala nya

orkestra besar dari notasi sederhana


Bekasi, 6 Maret 2018






















Masa dan Massa


hidup yang padat,

Para penyaksi berdiri tegak, 

tanpa kata,

Pasar di keramaian, 

saksi bisu mengamati,

Wajah-wajah tak dikenal lagi

jadi cerita yang hidup.

Situasi tak terduga, 

menyaksikan cerita berjalan,

Di antara lalu dan akan datang, 

mereka menilai,

Di tiap langkah, 

ada keajaiban yang mereka lihat,

Di muka peristiwa masa depan, 

para penyaksi berdiri.

Di balik penantian, di antara kerumunan,

Mereka temukan kisah-kisah yang tak terlupakan,

Di mata telanjang, 

mereka saksikan kehidupan,

Di setiap sudut kota,

kenangan penyaksi tercipta.

Di persimpangan ini, mereka menyatu dalam waktu,

Menciptakan catatan dari detik yang berlalu,

Di sini, di mana masa lalu dan masa depan bertemu,

Para penyaksi menulis kisah-kisah di bawah langit yang biru.


Bekasi, 7 Maret 2018




Sangsi dan pengungsi


Berita datang dari tanah jauh,

Dari para pengungsi, kisah yang kau dengar.

Mereka yang meninggalkan tanah kelahiran,

Di perjalanan yang penuh dengan cobaan.

Mencari ruang aman


Di dunia yang penuh dengan perang dan bencana.

Berita para pengungsi, cerita penuh perjuangan,

Tentang keberanian dan harapan yang mengilhami.

Di tengah kelaparan dan hujan yang turun,

merindukan rumah yang pernah mereka cintai

.

Berita para pengungsi, 

suara yang harus kita dengarkan,

Menusuk telinga, bersatu dalam iba

Jangan biarkan berita ini hanya berhenti di sana,

Untuk para pengungsi,


Bekasi, 10 Maret 2018












Libur dan lebur


sementara pita suara sejenak aku liburkan

kini tangan ku sedikit lebih bekerja

telinga kini bijak mendengar

berdansa…


dendam seketika terkurung

sementara hati ini sedikit menjadi perasa

jiwa seakan luluh menata

berkata…


sampai kapan kita merasa khawatir

sementara bibir-bibir mereka terasa dekat di telinga

dan aku tak mampu berucap dengan tega

bahwa tak begitu berartinya jejak mereka


Bekasi, 12 Maret 2018















Terbit dan orbit


aku sangat ingin mengorbitkan rasa

di sekujur tubuh ku yang baru saja teracuhkan


satu urutan dari tujuh

rambutku telah mereka hancurkan


aku telah katakan kepada siapa saja "selamat malam"

esok kan ku katakan "selamat pagi"

lusa siapa lagi yang mampu berkata-kata


Bekasi, 16 Maret 2018





















Sasar dan daftar


aku selalu menemukanmu

di daftar penyesalan

diantara pencarian jawaban

yang rajin menangisi waktu yang terlewati


aku menemukanmu lagi

di setiap dendam

di jantungmu

di jantungku

dan jantung hari-hari ku

di setiap kata yang tak beruntung disampaikan


Bekasi, 19 Maret 2018


















Sepi dan pergi


dengar orang menangis

disela rumitnya suasana

lalu mengalir ke arah batu

sampai malam sampai semua sepi


sisa air mata yang jatuh

yang ditimba dari dalam hati

lalu kering menjelma sunyi

sampai pedih sampai semuanya pergi


Bekasi, 21 Maret 2018




















Labil dan kecil


apakah nasib kami ada di mulut orang-orang

atau kami bentuk dari keringat kami sendiri

kata-kata seperti kehilangan makna,

lihatlah dirimu sibuk menghibur orang lain 

dengan rangkaian kata-kata 

yang sebenarnya kau sendiri ingin mendengarnya


kita ini orang kecil

harus hitung-hitung kecil

dari masa ke masa tak ada yang berubah

luka kita masih sama


Bekasi, 23 Maret 2018



















Sukar dan pudar


Burung bertengger di ranting yang rapuh,

Dalam senyap, ia meratap sendirian,

Sayap lelahnya tak mampu terbang tinggi,

napas pilu dalam dunia yang tak berpihak.


Hidupnya berjalan di atas seutas benang tipis,

Kehadirannya rapuh, tak lama akan hilang,

Tak seorang pun mendengar nyanyian sunyi,

Ia mengenang masa-masa yang takkan kembali.


Dalam sepi yang menghimpitnya, ia merindukan lagi,

Kisah angin diatas bukit, kenangan yang pudar,

Burung di ranting rapuh, peluk kesepian malam,

Kehilangan dan kerinduan menghantui dalam diam.


Garut, 25 Maret 2018















Lupa dan Pula


Maafkan semua kesalahanku yang tersembunyi,

Hilang dalam langit malam

seperti bintang yang surut.

Sepatu kusam ku juga pasti tahu, terluka di hati,

Menyimpan cerita masa lalu

berat bagai beban yang terus.

Mengingatkan akan kesalahan,

Mengambang di langit

seakan ingin bercerita.

Namun, ku ingin memperbaiki

namun tak berani berjanji,

Hanya berharap waktu dan tindakan yang bicara nanti.

Masa lalu, bagai bayang yang menghantui,

Pernah kucoba menghindar

tapi ia selalu kembali.

Luka-luka hati semakin mendalam dan gelap,

Seperti kisah tragis yang tak pernah selesai

tak terduga.

Engkau, yang sabar

terima permintaan maaf ini,

Namun hatiku rapuh, sering bergetar dalam ketakutan.

Tapi, janji tak ku ucap

takut kembali terluka dalam rapuh,

Mungkin, hanya waktu

yang akan membawa kelegaan yang diharapkan.


Bekasi, 29 Maret 2018




Getar dan wajar


Frekuensi getaran, di luar hitungan rasional,

Dunia meronta dalam kegilaan yang tidak wajar.

Bumi bergetar, alam menjerit kebingungan,

Kita berdiri di ambang kehancuran yang tak terelakkan.


Dalam cobaan ini, kita tak dapat menyembunyikan diri,

Ketidakpastian melilit, rasa ketakutan merajalela.

Frekuensi yang meledak, getaran tak terkendali,

Kita harus bersatu, melalui badai ini bersama-sama.


Kita, manusia-manusia lugu di tengah gemuruh,

Terhempas oleh getaran semesta yang ganjil.

Hidup kita terombang-ambing dalam kebingungan,

Seolah-olah cobaan ini adalah ujian terbesar bagi kita.

Namun, dalam gelombang getaran yang tak terduga,

Mungkin terdapat hikmah yang tersembunyi dalam getaran.

Kita harus mencari makna, menggali dalam diri,

Untuk menemukan jalan keluar, kembali pada kebijaksanaan kita.


Bekasi, 1 April 2018











Merdu dan merayu


Di jalan sunyi petang yang sepi,

Aku merayu langit, semoga hujan tiba.

Maukah engkau, hujan, jadi temanku?

Di pelukan lembutmu,


hatiku kan rindu dalam gerimis senja yang dingin,

Kita berdua menyendiri, sepi dalam hening.

Hujan, hiasi malam ini dengan gema merdu,

Temani aku, temani hatiku yang resah.


Cinta yang bergelora seperti air mengalir,

Hujan, jadilah saksi, jadilah temanku yang nyata.

Dalam pelukanmu, semua kerinduan terubat,

Semoga hujan, kau jadi temanku yang setia.


Bekasi, 2 April 2018















Hanyut dan selimut


Diujung sana adalah rumah lamanya,

Berselimut rindu, nostalgia membayang.

Dinding yang retak, mengisahkan masa,

Jejak langkah, kisah lama yang menghantam.


Pintu kayu berderit saat terbuka lebar,

Sambut kembali, ingatan pun muncul tak terbatas.

Pemiliknya, dulu berlari-lari di halaman,

Senyumnya hangat, dalam pelukan keluarga.


Di pojok sana, meja makan yang usang,

Kisah-kisah keluarga, berduka dan gembira, nyanyian tawa.

Lembutnya nyanyian ibu saat malam beranjak,

Menghanyutkan, dalam pelukannya kala itu.


Namun seiring waktu, segalanya berubah,

Rumah lama ini tlah berubah warna dan rasa.

Kenangan terpatri dalam setiap sudut,

Seperti surat tua, tak pernah pudar dan terasa.


Diujung sana adalah rumah lamanya,

Di sini, kenangan abadi terpatri dalam sejarah.

Ketika malam turun, bintang-bintang menyala,

Rindu dan nostalgia menyambut dengan sejuta tawa.


Bekasi, 5 April 2018





Kuncup dan sanggup


Matahari teralihkan hujan

namun tetap terang bersinar

Air hujan mengalir

laksana gelisah terbawa angin

Lihatlah padang yang gundah

tak ada kupu-kupu melayang

Bunga kuncup mengharap

saat sayap terbelah waktu


Rindu terbang tak berbentuk

elok bunga biji belum berisi

Waktu adalah seni melukis

mari berjalan bersama

mungkin ia tak akan sanggup

melihat rembulan terbelah

Waktu tak akan ketinggalan

nikmati saja segala rindu ini


Lihatlah wajah yang merintih

kesepian merangkul ruang waktu 

Kau sampai bersama sayap tumbuh dari hati

sayap yang ingin bebas dari bermakna


Bekasi, 7 April 2018







habislah aku

tergoda sejuta sentuhan

yang membelai keras sekujur tubuh


Temanggung, 9 April 2018




























Angan dan ambang


berat beban di kelopak mata mu

angin semilir genit dan menari

ledakan-ledakan hiruk pikuk

di ambang angan-angan


setelah malam tenggelam

setelah kaca jendela tertutup

tingga lah hanya kain penutup

melambai mesra tiada jawab

waktu itu hampir pagi

sebelum mentari menjaga kita


Temanggung, 11 April 2018


















ada dan jeda


di ransel masih ada

secarik kertas bertuliskan nama mu

lusuh dan lecek di aniaya buku tebal


di ransel masih ada

sisa-sisa nilai belajarmu

tercoreng pada daftar penyesalan


di ransel masih ada

Pensil yang tak sempat kau raut

tersimpan dalam kotak waktu


Bekasi, 15 april 2018


















Usir dan mangkir


kerumunan itu mengusirku paksa

kedamaian telah mangkir jauh

air putih, kopi, rokok kretek

diplomasi sudah basi

tidak kulihat lagi pertunjukan

arak-arakan dan pawai idiot

aku sudah menggiringnya ke pulau sepi

tempat kesunyian ringan bisa ku aduk-aduk

dari sisa kemarin

siapa lagi yang bisa berbicara?

janji-janji, bendera, mahkota serigala

baju dan bendera bertuliskan nama “janji” itu

sudah ku jadikan karpet “selamat datang”

di pijaki nya dengan basah dan kotor

di injak-injak dengan bangga

sementara di atas mimbar 

suara itu ku anggap radio rusak

tak akan kubiarkan ia mengepung pulau ini lagi


Bekasi, 23 april 2018











Kata dan daya


Liar, celoteh meloncat dari bibirmu,

Menyulut api, hancurkan hari tanpa batu.

Ketukan kata-kata, semakin keras,

Seperti palu, membelah keheningan malam.


Matahari menutup diri dalam malu,

Ketika kau berceloteh, menghancurkan batas waktu.

Dalam setiap percakapan, tak ada kata lembut,

Hanya hantaman kata-kata, menggertak dalam kesunyian.


Kita, terjerat dalam permainan kalimat,

Semakin liar celoteh, semakin hancurkan rasa.

Batu tak mampu menahan derasnya air kata,

Seiring pagi merangkak, hati terluka dalam senyum.


Hari-hari tergulung dalam ombak kata-kata,

Tanpa batu, tanpa benteng, kita tak berdaya.

Dalam keheningan, masih terdengar seruan,

Semakin liar celoteh, hancurkan hari tanpa batu.


Bekasi, 25 April 2018








aku, apa, dan siapa


Nyamuk itu datang lagi

Kali ini tidak sedang kesiangan

Mereka berteduh

Menggigil

Setelah diseberangkan paksa oleh gerimis


“selamat siang menjelang sore”


Tapi ini bukan sapaan

Sebab di ujung sore nanti

Aku akan katakan kepada siapa saja


“selamat malam”

“aku sudah siapkan semua yang ku rampas”


Apa pun itu

Kata-kata, suara, angin malam tak terima


“maaf kami agak gugup menyapa kenyataan”


Bekasi, 29 April 2018










Duka dan Muka


Langkah terhenti, matahari bersembunyi,

Senja merayap, menari di langit biru.

Hening merajut kabut, gelap mengintip,

Dalam diamnya, cinta pun terlipat.


Silakan tunggu di muka waktu yang menguji,

Seperti kata-kata yang terlontar,

Biru di langit menyimpan rahasia,

Sejenak, kita berdiri di tepi keabadian.


Duka merayap, merajut asa yang rapuh,

Sebagaimana malam merangkul senja.

Kata-kata cinta, tergantung di bibir,

Silakan tunggu di muka, biar waktu yang menjawab.


Gelap tak sepenuhnya menutup, bintang tetap bersinar,

Mengisyaratkan harap, di antara jeda kegelapan.

Dalam sunyi, di antara nafas senja,

Kita menanti, di muka waktu yang tak pernah terbaca.

kembali aku ditelan sepi


Bekasi, 3 Mei 2018









Masuk dan Mabuk


Ternyata malam masih panjang

Malam kemarin

Malam ini

Malam esok

Kita menggigil dalam metafora

Langkah kita tersandung titik dan koma

Mabuk berjalan

Diantara bunga-bunga rekah

Diredupnya malam

Diremangnya hati

Kita mabuk lagi

Mabuk penyesalan

Dan kembali lagi ditelan sepi


Bekasi, 10 Mei 2018
















lampu dan pintu


saat aku berteduh manja di bawah kibaran bendera

aku tak ingin lagi menyentuh telepon genggam ku

sejenak tak ingin melihat dunia persegi itu

tapi, ponsel itu kubiarkan mode suara

detik demi detik yang terus piket

lampu layar juga hampir mengantuk

baterai yang telah ku tawar paksa untuk sarapan

sinyal terus saja kupaksa sadar walau masa tenggang

nomor kontak juga sudah aku biarkan ia melacur

banyak peringatan

banyak kejutan

mengetuk pintu

sirkulasi

kopi hangat dan rokok kretek

berselancar penuh interaksi


Bekasi, 13 Mei 2018














berapa dan kenapa


sudah berapa kali dunia berubah

Sebelum kamu meminta nya?

sudah berapa kali angin berhembus

Sebelum kamu mencari nya?

sudah berapa kali hujan jatuh

Sebelum kamu menepisnya?

Sudah berapa kali musim berganti

Sebelum kamu merubahnya?


Ia telah lenyap

Tapi masih dicari

Ia sudah mati

Tapi masih berani

Ia sudah dilupakan

Tapi masih berarti


Bekasi, 21 Mei 2018















Pergi dan menari


Sebagian tidak mau diceritakan

Kabar buruk dan kabar baik menyamar

Ada kerusuhan di setiap sudut

Yang larut dalam pencarian

Perbincangan yang kontemporer

Direguk habis setiap beku nya tanya


Mereka enggan bermimpi lagi

Katanya semua telah berakhir

Katanya semua telah pergi

Tapi dua kata masih menari


Aku jawab dengan pasti

Kata “tapi” dan “mungkin” Tak mau luput

Mereka terus bersemayam

Sebab tak ada yang sanggup berjanji

Seperti putaran waktu dan matahari


Bekasi, 25 Mei 2018











mangkir dan mengalir



Aku sedang terhanyut

Doa kali ini untuk ku saja

Aku masih bimbang

dihasut badai yang tenang

Aku masih kehilangan

Harap kali ini untuk mu saja


Aku masih mau bermimpi

Tapi lelap kali ini untuk kita

Yang masih terbendung lupa

Yang dirawat baik oleh sesal


Mudah-mudahan kau mau mampir

Sekedar menginjak kenyataan

Aku tak sanggup mangkir

Karena hujan masih mengalir


Bekasi, 30 Mei 2018












nama dan rupa



bagai topeng muka dua

menyalin nama dan rupa nya

dasar rasa sedihku hanya diriku yang tahu

kebahagiaan bisa ku tipu sendiri

ia senang bermain di dunia nya

aku biarkan diriku membisu, 

biar saja,

biar apa?

sampai mana dalam palung terdalam

nanti waktu yang menyertai untuk menakar nya

apa kalian akan tahu?

berapa lama aku bermimpi

berapa harga mimpi yang bertambah tinggi


Bekasi, 2 Juni 2018















kuat dan muat



berjalan kaki adalah hal yang biasa

semua orang melakukannya

Ada harga yang lebih ternyata

Seperti sebuah kejutan

Pergi dengan pintu semangat

Pulang membawa ransel rindu yang kuat

Arah-arah baru menyelimuti

Seperti layu nya tanda tanya

Siapa lagi yang mau menanti kesimpulan

Biar aku saja

Biar kamu saja

Biar kita saja

Aku pun bisa

Kau pun bisa 

Jika kamu mau


Boyolali, 4 Juni 2018














akan dan umpan


Aku takut tidur dan tidak tahu apa yang menunggu

Tapi aku terlalu dalam dengan umpan iblis

Mimpi buruk begitu nyata sehingga aku terbangun

Bahkan saat aku menulis Jari-jariku gemetar

Aku ingin kembali

Perbaiki semuanya

Tapi itu tidak mungkin

Di tengah malam

Dengan masa lalu yang menakutkan

Menatap masa depanku terperanjat

Berpikir saat aku duduk rapat 

Dengan masa depanku tidak terlihat


Boyolali, 7 Juni 2018

















gubuk dan tunduk


luangkan waktu untuk berkemah

jelajah manis membuang hari

membelakangi tangis dan kekalahan

tenggang rasa yang kerendahan


kita buat lagi rumah sementara

lagi pula lapar adalah derita abadi

kita buat lagi sumur genangan

lagi pula dahaga tak perlu dalam-dalam

kita naungi lagi atap sederhana

buat apa takut pada kasihnya


kita bingkai lagi jejak kita

yang lebih jauh dari itu

melibatkan langkah-langkah

yang didamaikan gubuk kenangan

tempat berteduh hati kala rindu


Bekasi, 10 Juni 2018












kerap dan senyap


ada yang lebih senyap dari bisikan

lebih panas dari siang

lebih khawatir dari hujan

memayungi saja

tidak perlu menghujani

dikalahkan oleh stigma

dimenangkan karena tidak peduli

makin nampak dangkal

kenapa ia seperti makanan kaleng

sedangkan aku seperti pembuka kaleng

mengapa mereka membeli kedua nya


Bekasi, 15 Juni 2018


















surau dan tembakau


Bagaimana cara menemukan lagi keikhlasan

yang aku tinggalkan di atas ketidakrelaan

dimana?

di atas sandal yang hilang dihalaman surau

di setiap ponsel berdering

di remuknya uang recehan

pada lintingan tembakau

saat kopi panas dilupakan

seperti pemantik api yang lenyap 

atau dua nomor belakang yang luput terjatuh melupa


Bekasi, 17 Juni 2018

















tanaman dan bagian


Dongeng panjang penuh rahasia

Penasaran seperti lapar yang pasti

Derita abadi setiap makhluk

Yang mampu merubah rasa

Sisa-sisa yang tenggelam

Di hamparan rasa penasaran

Yang dihimpit lupa

Yang teringat-ingat rasa

Kasih sayang

Tanaman abadi yang tumbuh

Menjalar di setiap hati

Setiap hari

Sepanjang dari kita lahir

Ia bagian dari kehidupan

Entah sampai saat ini

Masih menjadi mode pengingat 

Dilubuk hati yang paling dalam

Harus Tenggelam untuk menemukan nya


Bekasi, 20 Juni 2018

***










a dan 4


Dinyanyikan kenyataan

Setelah habis dan tenggelam


Bekasi, 22 Juni 2018

***




























segala dan upaya


ia tenggelam dalam cintanya

mati lah segala penjelasan dunia

ia di dekap hangat rindunya

tak mempan lah segala nasihat

ia berendam dalam mimpi

hancur lah semua batas arti

ia terhanyut dalam sedihnya

redup lah segala daya upaya


Jakarta, 27 Juni 2018

***



















lahir dan lapar


sanjungan palsu lahir dari rasa lapar

harapan nyata lahir dari makian


Bekasi, 30 Juni 2018

***





























Kita hidup di dunia ini memang untuk saling merepotkan


Bekasi, 2 Juli 2018


***





























Aku rasa mengasihimu tak perlu bernyanyi merdu

Agar kau ingat nada sumbangku

Mengasihimu tak perlu juga cukup

Agar kau ingat apa yang kurang dari ku

Mendambamu tak perlu benar-benar

Agar kau tahu betapa salah pun menuntunmu untuk tahu aku


Ku ingin sekali berlari

Atas pelarianku

Dari banyak nya pengaruh

Yang tak sempurna dirindukan

Yang malu untuk di khayalkan


Janji ku didalam hati

Andai ku dapat kau

Dunia tak kan menampar keras

Mungkin menggelitik

“Pulanglah, kembali ke rumahmu,

Tempat sepi bisa kau aduk-aduk”


Bogor, 7 Juli 2018


***








Kita telah jauh

Menjauhi sepi

Yang pernah kita bangun temboknya


Kita telah lelap

Dari lelah yang dihantui rasa ragu

Kita sudah lebih jauh


Bahkan lebih jauh dari kata “pernah dekat”

Sebelum dewasa memisahkan kita


“Aku rindu kecilku, tak rasa tahu ku, bodohku”

tapi tak ingin kembali sampai membuka pintu

Bila kau rindukan aku

Taburkan saja suasananya

Diatas kertas yang dipengaruhi notasi hari


Jika mau sombong tak ada yg mampu bernada dan kata sedemikian,

Karena lagu ini hanya tercipta untuk mu


Bogor, 8 Juli 2018











***

Sejauh mana aku dibutuhkan

Apakah seperti robot percobaan

Barang pinjaman

Tumpangan kendaraan

Rumah singgah

Remote pengendali

Air putih

Pahlawan kesiangan terakhir


Bekasi, 12 Juli 2018





















***

Orang orang bertanya

Dimana dia?

Sebelum aku tak tahu dengan kabarnya kemarin


Kata-kata terjebak

Apakah kau tahu?

Sebelum itu aku sering menulis tentang kau


Ruang tanya hampir habis

Apakah kau rasa?

Sebelum itu aku bingung menjawab banyak pertanyaan


Bekasi, 15 Juli 2018



















Semacam ruang tunggu

berbaris bangku-bangku tamu

Yang sulit diceritakan awalnya mengapa

Berita kini baru lagi

Papan reklame masih berdiri

Yang bisa dijelaskan dipergunakan untuk apa

Apa?

Siapa?

Mengapa?

Mengapa kita masih bingung?


Mengapa malam masih ada

***




















Zaman telah berubah

Kemarin ia menulis surat wasiat dan memintaku menjemputnya

Musim telah berubah

Hari ini dia memintaku mengikuti setiap langkah kaki nya

Rasa akan berubah

Untuk esok dia berpesan kepada ku untuk selalu memegang tangannya

Bertanya-tanya tentang nyata yang rahasia

Menjawab tanya tentang fana yang indah

***























Dunia mu begitu semu

Aku terjebak di dalamnya

Dan malaikat seakan menjauh

Dari aku yang mabuki rindu mu

***




























Jatah gagal ku telah ku ambil upahnya

Diberikan sore hari dengan kertas slip gaji yang lusuh

Atasan ku memanggilku sedari pagi

Aku telat menghadirinya

Setelah aku bekerja melewati jam yang semesti nya

Hampir malam aku pulang kerumah

Aku menaruhnya di atas meja

***

























Beberapa orang mengatakan,

sinar matahari mengikuti kilau mata kita

Coba katakan pada seseorang yang tak bisa bersinar,

Dengarlah kabar mereka bilang kita usah merenung

Tetapi masa lalu yang terus mempengaruhi kita dalam berpikir

Beberapa orang mencoba menenangkan bahwa kita akan menemukan hari yang lebih cerah

Di hari yang lapang ini aku berdiri dengan harapan

Diketahui di tengah hujan, persiapkan dirimu

Untuk rasa percaya yang tak tergoyahkan


Piring kotor menghiasi pikirannya

Lembut meluap, tapi itu semua serba mendasar

Beberapa orang tak percaya pada harapan

Beritahu mereka yang tinggal di lingkaran derita

Kau akan mendapatkan apa yang diberikan

Jika tak ada yang milikimu, tak juga punya milikku

***















Masa depan kita bisa saja dibatalkan oleh kalkulasi di esok hari

***































Ketika seseorang berkata,

“Siapakah kau?”


Lalu tidur pun menjawab,

“Bumi mengelabui dan langit mengacuhkanmu, maka datanglah ke pangkuanku kan ku bawa sekeranjang hal indah dari keduanya di dalam mimpi mu


Ia berkata lagi,

“Akan kemana kau?’


Maka mimpi pun menjawab,

“Dikala dunia risau dibawah langit yang mendung, mata ku terpejam hanya untuk sebuah mimpi yang sulit ku gapai di pagi hari”.


garam-garam bintang

Gula-gula rembulan

Diaduk dengan dialiri air panas hati

Yang menyelinap dalam genangan yang sunyi


Dia berkata lagi

“Kenapa suka tertidur?,


Kini giliran ku menjawab,

“Dalam tidurku aku memelukmu, sampai penatku terbangun dilagi hari, aku akan lelapkan engkau, tapi kumohon jangan larutkan aku didalamnya”

***




demi kata istirahat

Yang aku tak tahu kapan itu bisa dicapai dengan tenang,

Cerita palsu itu membuatku mengantuk

Bagaimana cara nya menarik nya keluar

Suka dan duka nya kuberi reaksi uap untukmu

Dengan kata lain aku bosan mendengarnya

Terimalah setiap hembusan kebosanan ku

***

























Kebanyakan rindu mati di jalan panjang

Kebanyakan mimpi tak rela untuk dibagi

Disana tempat rindu mati sendiri

Disini tempat mimpi seperti nasib yang disunyikan kita masing-masing


Selayaknya malam, sunyi bisa ku aduk-aduk hingga pagi

Selayaknya siang hingan bisa kutekan sampai sirna

***

Dengan berat hati harus ku katakan, bahwa aku rindu kamu


***





















Apakah kita ini,

seperti kaleng makanan instan

dari banyak angka nol yang menendang dengan kebosanan ditelingamu


penuh,

tetapi kamu kosong

memegang hatimu sendiri

Dari orang-orang yang tidak pernah benar-benar peduli bagaimana keadaanmu


Jadi mohon,

beri aku rasa dan pandangan dengan mudah 

Aku sudah melihat begitu banyak,

aku jadi kasat mata dan layar pikiranku kian meredup


Kita cukup sulit,

Untuk itu bawa aku pergi dari ruang besar yang buruk ini

Dan setuju lah untuk berjalan denganku

Jadi kita bisa memulai dari awal lagi

Apakah kamu pergi ke untuk melihat hujan yang lain?

Jaraknya tidak terlalu jauh

Namun akan ada orang di sana yang menyakitimu


Karena siapa?

Telingamu penuh dengan bahasa mereka

Ada hikmah di sana,

yakin lah akan sampai kata-katanya mulai tidak jelas menjadi jelas

Tapi aku tak janji untuk dapat menemukan pintunya